Ran #Part2 Quazurk

Tak ada obrolan dengan pria yang sudah mengetahui namaku, namun sampai sekarang aku tak tahu siapa dia. Dia mempersilahkanku masuk dengan membukakan pintu, dan aku hanya melemparkan senyum terbaikku sebagai ucapan terimakasih.

Aku sudah membayangkan akan ada banyak cerita antara aku dan Janne, ketika aku memutuskan untuk menginap dirumahnya saat aku berada di Quazurk, karena cukup lama rentan waktu kami tak berjumpa, walaupun begitu, kami tak pernah absen untuk saling mengirimi kabar melalui email. Dan kabar terakhir darinya adalah pernikahan anak sulungnya dengan perempuan nebraska yang sangat anggun dan cantik. 1 bulan yang lalu.

Aku memasuki rumahnya, suasananya lebih hangat dari pada di luar, aku melepas mantel ku, dan menggantungkanya di dekat pintu, diluar dugaanku, rumah ini sangat sepi, hanya ada kita berdua.

“dimana Janne?” tanya ku

“Besok aku akan mengantarmu bertemu dengannya, akan ku tunjukan kamarmu”

Dia masih memimpin langkah kami, dan dia membawaku ke lantai dua, dan menunjukan kamar yang sangat indah, kamar ini benar-benar dipersiapkan.

“ini terlalu berlebihan, kedatanganku pasti sangat merepotkan”

Dia menggeleng, dan  tersenyum, ini senyum pertama yang aku lihat darinya.

“istirahatlah sejenak, akan ku buatkan kopi untuk sekedar menghangatkan badan, oh ya kamar mandi ada di ujung lantai ini. jangan sungkan jika ada yang ingin kau tanyakan” di melihat jam tanganya.

“kopimu akan siap jam 10.45” di langsung berbalik meninggalkan kamar ini, tak luput dia menutup pintunya.

Aku sangat takjub. Janne benar-benar sangat direpotkan dengan kedatanganku, “oh Janne maafkan aku” aku merasa tak enak. Karena pada saat dia menginap di rumah kami di Fixie, Aku tak memperlakukannya sebaik ini.

Aku tak merasa lelah, aku berkeliling di kamar yang berbentuk trapesium, denga langit-langit bersudutkan 45◦. Kamar ini persis seperti yang ia ceritakan. “jadi ini kamarmu saat kau kecil Jene?” aku berbicara seakan dia ada disini.

Satu-satunya kamar perempuan di rumah ini, kedua anaknya adalah laki-laki. Yang aku tahu adalah Hanry yang baru saja menikah sebulan lalu, dan satu lagi, mungkin pria yang mengantarku tadi. Namun Janne tak pernah mau menyebutkan nama anak bontotnya, dia bilang akan memberitahuku jika aku bertemu denganya nanti. Dia bilang nama anaknya yang kedua akan membuatku kaget. Dan dia menepati janjinya, dia tak peranah mau memberitahuku walau aku memaksa dan memancingnya.

Dan rasa penasaranku akan terjawab sebentar lagi.

Ruangan ini sangat cantik. Di dinding dekat jendela sudah layaknya sebuah pameran foto. Dinding bagian ini dipenuhi oleh foto  dari berbagai masa. Keluarga ini sangat bahagia, tercermin dari fotonya. Terkaget, aku melihat fotoku dengan Janne saat di Fixie, dan ada sebuah surat di depan frame foto kami. Aku tersenyum.

Dan jika aku boleh bercerita di sudut kamar ini ada banyak boneka hewan dan berbagai mainan. Aku rasa Janne menyimpan masa kecilnya dan anak- anaknya di kamar ini. aku merasa aku sedang berada dirumahku sendiri. Aku merasa bahwa aku pulang. sangat nyaman. Tak sabar aku ingin bertemu  dengannya esok.

+++

Aku merebahkan badan setelah urusan bersih-bersih selesai, sedikit merilekskan badan, bukan karena kelelahan di hari pertama petualanganku, namun dengan semua kejadian darurat kota di malam ini.

Aku melirik jam dinding yang tak henti berdetak, 10.30 aku memutuskan untuk langsung kebawah, menemuinya. Iya aku tak bisa menyebutkan namanya sampai saat ini.

Dari anak tangga ini aku bisa melihatnya duduk bersandar di sofa yang menghadap tv, dan tak jauh dari ruang tv, sebuah penyaring kopi tengah berusaha meneteskan sari kopi dengan kepulan asap diatasnya. Dia melirik ku, sepertinya langkahku dengan mudah di deteksi olehnya. Aku pergi menghampirinya. Dan dia terbangun.

Dia mematikan tv, dan pergi ke meja makan. Disana sudah ada berbagai cookies yang akan menemani kopi kami malam ini.

Aku duduk tepat di depannya, dia menyodorkan kopi, dan segelas air putih. Aku kaget.

“bagaimana kau tahu?” tanyaku tiba-tiba. Ini adalah kebiasaanku dimana aku butuh segelas air putih untuk segelas kopi.

“janne yang memberi tahuku. Pasti kau kaget, dengan berbagai keributan di kota ini di hari pertamamu?”

Aku menggeleng setelah mnyerudup kopi pertamaku dirumah ini.

“justru aku merasa berutung bisa dianugerahi situasi kota seperti ini. terkadang hal yang tidak direncanakan dalam sebuah perjalanan, itu lebih menyenangkan, dan bagaimanapun itu. Hal itu akan sulit ditemui, karena takdir yang mempertemukan seseorang dengan kejadian-kejadian seperti kebakaran tadi.”

Dia hanya tersenyum, dan mungkin berfikir aku ini aneh.

“ekhem,, sorry ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan”

“silahkan”

“bagaimana kau tahu kalau aku ada disana?”

“kota ini sangat kecil, kejadian kebakaran itu bisa dengan cepat diketahui oleh semua warga Quazurk, temasuk aku. Yang aku tahu dari email yang kau kirim pada Janne, kau akan berkeliling kota, dan akan datang kesini esok hari. Sebenarnya aku sudah mengikutimu sejak kau sampai di bandara. Mungkin kau tak curiga. Aku hanya bemodalkan foto untuk mengetahui mu. Janne memintaku untuk menjagamu disini. Jadi aku harus tahu orang yang akan aku temani selama 4 hari di kota ini. jadi aku memutuskan untuk observasi mengenai gaya travelling seperti apa yang kau lakukan. Selain informasi dari Janne, aku ingin memastikannya secara langsung. Bukankan seseorang akan terlihat kepribadiannya ketika dia sendirian?”

Aku mengiyakan. “jadi pada saat kejadian kebakaran itupun kau ada disana?, itu kelemahanku, aku tak terlalu memperhatikan orang disekitar ku, sehingga aku tak curiga sama sekali. Harusnya aku mengenalimu dari awal, mohon maaf”

Dia menggelang. Mengisyaratkan tidak usah minta maaf. Perbincangan kami malam itu lumayan panjang. Walau yang lebih banyak bercerita adalah aku, dia begitu antusias menjawab berbagai pertanyaanku dan mendengarkan berbagai ceritaku. Sampai pukul 2.00 am, selain bercerita kami merencakan perjalanan kami selama 4 hari kedepan. karena terlalu bersemangat bercerita dengannya, aku sampai lupa menanyakan siapa nama pria hangat ini.

Iklan

Ran #Part1 Quazurk

Suasana kota saat itu sangat kacau, semua orang berlarian ketika suara sirine tanda bahaya mulai berbunyi. Aku tak ayal dengan orang lain. Tak mengerti arah tujuanku, hanya mencoba untuk tetap berlari dengan arus manusia tanpa terbawa kepanikan semua orang. sampai pada titik berkumpul semua orang mulai tersadar gedung di belakang kami sudah terbakar hebat.

“jangan pergi kemanapun, tetaplah berkumpul dengan orang-orang ini. aku akan kembali untuk menjemputmu!” perintahnya sebelum akhirnya berlari meninggalkanku, yang membuat ku bingung, aku tak mengenalnya, namun Pria itu yang selalu mengikuti ku sejak aku sampai di kota ini. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban, tak banyak orang yang aku kenal di kota ini. aku hanya seorang diri dari Fixie. Tujuanku hanya untuk mengeksplor kota Quazurk, kota yang terkenal dengan keindahan lautnya.

Rencanaku 5 hari di kota ini, hanya sekedar berjalan berkeliling kota dan esok adalah waktu untuk diving melihat keindahan bawah laut yang sangat terkenal itu. Namun kebakaran apartemen yang berada di belakang city hall itu diluar dari skenario ku. Namun bagaimana pun ini tetap menjadi bagian dari cerita dalam perjalananku.

aku hanya berfikir bahwa pria itu adalah salah satu dari orang baik, yang akan membawa ku keluar dari kepanikan ini. Jadi, aku putuskan untuk menunggunya, mengapa aku harus menolak kebaikan orang lain?. Di kota asing pula.

Kami tak di perkenankan keluar dari lokasi ini, dan aku bersyukur tak ada yang terluka, dan wajah kepanikan dari segerombolan orang- orang ini pun sudah sirna, kami semua sudah merasa aman dan tenang. Namun hal itu tak terjadi begitu lama. Tiba-tiba suara ledakan kembali terjadi, kali ini berada 100 meter di depan kami, sontak beberapa orang mulai berlari, kota ini tidak terkendali, aku mulai khawatir.

Aku memutuskan untuk berlidung di lokasi yang sama, “aku akan aman di sini, karena ada polisi yang bersiaga.” Namun ketika gedung yang terbakar itu perlahan mulai runtuh, aku ikut berlari menjauh. Khawatir runtuhan itu akan memicu merembetnya kebakaran.

Namun tiba-tiba aku teringat akan seseorang yang meminta ku menunggu di sini, kali ini aku menyesal karena aku mengangguk, namun prinsip ku untuk tidak mengingkari janji sangat kuat melekat dalam setiap aliran darahku. Aku menarik napas mencoba menenangkan diri sendiri. “Oke Ran, berpikirlah jernih, bertindaklah normal!”

Aku masih menunggu dengan khawatir, sampai akhirnya aku tak mampu menunggu ketika gedung yang berada di depanku benar-benar akan runtuh. Polisi menuntun kami untuk berjalan dengan tenang. Mencari lokasi yang aman. Pada saat yang sama tiba-tiba lampu seluruh kota dimatikan, untuk meminimalkan risiko kebakaran. Namun Polisi di Kota ini benar-benar sudah bersiap. Kami tak merasa buta ketika tiba-tiba hal itu terjadi. Dengan lampu yang sudah di sediakan, proses evakuasi berjalan dengan baik.

“Keren” entah mengapa aku tak merasa terancam, dan takjub dengan sistem yang diterapkan di kota ini. aku merasa terlibat dalam adegan sebuah film. Dan yang benar saja.  Sampai akhirnya kami memang benar-benar menjauh dari lokasi kebakaran. Polisi mengumpulkan kami di sebuah museum kelautan.

“it’s the point” lokasi ini ada dalam  daftar perjalananku dan ini ada di hari ke 3, tapi tak masalah, aku akan merubah jadwal perjalananku, “kepalang kecemplung, iya kan?” aku berkeliling di dalam gedung. Namun karena gelap, aku hanya bermodalkan senter Hp, disayangkan aku hanya bisa berkeliling di pelatarannya saja, karena museum ini sudah di tutup.

Namun aku tetap bisa menikmati ketenangan kota ini di pelataran musium. Tak banyak orang yang mau berkeliling seperti ku. Mereka mencoba menengkan diri dengan duduk, dan setiap orang sibuk menghubungi sanak saudara mereka. Dan ada pula yang meminum secangkir teh hangat yang diberikan secara percuma oleh sebuah caffe disamping museum ini.

Tak disangka aku menemukan orang yang memutuskan melakukan hal yang sama denganku, dan diapun seorang diri. Aku berniat menghampirinya. Dan ‘binggo’ ia pun berjalan kearahku, hanya titik cahaya yang terlihat membesar, namun sama sekali aku tak bisa melihat wajahnya. Hanya sampai bayangan saja.

Tak jauh beberapa langkah dari ku, dia mematikan cahayanya.  “sudah ku bilang untuk menunggu sebentar, tapi kau ternyata pergi.”

Aku langsung mengarahkan senterku kewajah orang itu, langsung teringat pada pria yang memintaku menunggu, dan benar saja itu dia.

“tapi disana bahaya, dan polisi mengevakuasi kami. Jadi aku memutuskan mengikutinya, tapi boleh aku tahu, apa kau mengenalku? Dan mengapa aku harus menunggu mu?” tak banyak basa basi, aku langsung mencari jawaban dari pertanyaan yang hinggap dikepalaku.

“tapi sepertinya kau baik-baik saja. Ikutlah, ada orang yang menunggumu begitu lama. kau pasti mengenalnya. Dia yang memintaku untuk menemanimu”

Dia sama sekali tak menggubris pertanyaanku. Langkahnya mendekat dan dia memintaku untuk mengikutinya lagi, aku tak mengerti dengan tingkah pria ini. aku tak mengikutinya dia menghentikan langkahnya.

“Janne Davidson, you know her, she was worry about you. Just follow me”

Nama itu membuatku mengikuti langkahnya. Tak jauh dari halaman,  dia berbicara pada polisi dan langusung pergi kearah motornya dan mengenakan helm, aku melemparkan senyum dan berterima kasih pada polisi yang telah berkerja keras malam ini. dia memberiku helm dan tanpa perintahnya aku langsung duduk di jok bagian belakang.

Sengaja tak ku tutup kaca helm ini, udaranya sangat sejuk, terlebih keheningan kota ini tanpa satupun lampu dari berbagai rumah dan gedung di pinggir jalan membuat kota ini semakin cantik di bawah sinar bulan. Aku sangat menikmatinya.

Janne adalah seorang kawan berumur 50 tahun dengan 2 orang anak yang seumuran denganku, dia berjanji jika aku bertandang dikotanya aku harus pergi mengunjunginya dan menginap dirumahnya, bahkan dengan senang hati dia akan menemaniku berkeliling kota ini.

Aku bertemu dengan Janne, ketika aku harus mendampingi anak-anak korban perang di Fixie, ketika itu dia juga seorang relawan medis, walau sudah berumur, hatinya begitu baik dan energinya sangat menggebu, layaknya pemuda sepertiku. Dia tak ingin hidupnya hanya di habiskan untuk mengobati orang-orang yang datang ke klinik, dia memilih jalan hidupnya sendiri, untuknya berbagi adalah hal yang bisa menjemput kebahagiaan dari surga, walau hanya 3 minggu kami bersama, namun berbagai kisah petualangan kehidupan, kita bagi bersama. Itulah Janne. Dan aku mengabarinya bahwa aku akan akan mengunjunginya besok, setelah berkeliling city hall.

“bagaimana Janne bisa tahu, aku ada disana? Dan akan ada kejadian itu saat aku disana. Sepertinya dia memiliki alarm yang akan memberitahunya ketika suatu bencana akan datang”.

Aku mencoba memecahkan keheningan, namun tetap hening, sama seperti sebelumnya, tak ada jawaban.

“Janne menunggumu, kau akan tahu betapa dia merindukanmu Ran. Hanya 4 blok di depan. Itu rumah kami” itu yang dia ucapkan. Kali ini nada bicaranya lebih ramah dibandingkan sebelumnya.

Kami turun dari motor tepat di depan rumah yang tak besar namun begitu hangat, aku bisa merasakan kehangatan rumah ini dengan melihat ayunan di batang pohon besar, berbagai bangku yang mungkin biasa di gunakan untuk keluarga ini berkumpul, dan ada pula berbagai tanaman yang terawat dan cantik tertata di halaman ini. rumah ini terbuat dari kayu. Terlihat sangat hangat.

Surat Tak Sampai

Kalau ada keberanian menyampaikan surat ini, saya kirimkan pada 2 yang memberikan saya banyak pelajaran hidup , namun saya tidak cukup berani rupanya, mungkin ini hal sepele untuk orang lain, namun begitu berarti untuk saya pribadi.

Saya sangat bersyukur bisa banyak belajar dari teman yang satu ini, dia yang mengajarkan saya, bagaimana harus terus mengkonfirmasi berbagai hal dan jangan pernah berasumsi untuk segala hal, karena akan membuat kita menciptakan masalah baru. Kacau pokoknya.

Setelah itu, bagaimana dia selalu langsung japri, dan memberikan penjelasan atas status saya di facebook, mengenai berbagai pendapat saya akan beberapa hal, misal mengenai kata perempuan dan wanita. Seketika dia langsung memberikan penjelasan kepada saya, walau kita ada di belahan dunia yang berbeda saat itu. bukan memarahi karena saya mengguakan kata yang salah. Tapi dia dengan perlahan dan sabarnya memberikan informasi dan memberi tahu penggunaan kata perempuan dan wanita. Bagaimana tiba-tiba jadi mencerita sejarah atau budaya jawa dengan tatanan kata yang saya gunakan. “oh iya, saya belajar lagi kali ini” itu yang saya pikirkan setiap kali dapat japri darinya.

Setelah itu dia kembali mengajarkan saya untuk mengorbankan salah satu yang aku kerjakan sejauh ini, dan menentukan mana prioritas kita. Karena terlalu banyak hal yang aku kerjakan kali itu (bahkan sampai sekarang), itu yang membuat kita tak pernah membuat apa yang kita lakukan itu menjadi sangat dalam dan membuat kita jadi hanya berenang di permukaan yang luas, walaupun  dia tidak menyatakan bahwa itu salah, semua ada baik buruknya. “itu salah satu alasan kenapa kita jadi pelupa di usia muda”. Itu yang dia bilang. Dan sampai sekarang itu menjadi salah satu argumen yang saya iya-kan. Kali itu malam hari di perjalanan kami di Yangon, bagaimana setiap perjalanan dengannya selalu saja ada hal yang menjadi jleb, dan jadi pembelajaran yang sangat berarti dan bermanfaat. Yang benar saja, saya melapaskan satu pekerjaan saya di tahun 2014.

Setelah itu, dia kembali membuat saya menjadi seseorang yang tak boleh takut untuk mengatakan ‘tidak’ jika kita tidak mampu menyelesaikannya, ketika semua pertimbagan akan membuat kita kewalahan setengah mati, jangan ada kalimat “ngak enak mba nolaknya”, hal itu juga terus di gumankan oleh Kafah. Dia orang pertama yang bilang “sekali-kali bilang enggak kek”.

Iya, dulu saya selalu bilang iya, dengan berbagai tugas yang diberikan, karena saat itu saya berfikir, saya diberikan tugas karena saya mampu, dan saat itulah waktu saya untuk belajar. Namun beberapa kali banyak pekerjaan tak selesai karena jawaban iya dari semua permintaan, saya kewalahan dan tak bisa ku kerjakan, alhasil hanya mengecewakan.

Dari Kafah dan Mba Tilla, saya menjadi seseorang yang berani mengatakan tidak dengan alasan yang masuk akal, dengan berbagai pertimbangan, bukan karena tidak mau semata. Dari mereka pula saya tak terlalu peduli mendapat penilaian buruk dari orang lain, tentang menyampaikan pendapat yang ada dalam pikiran, toh memang itu yang ada difikiran saya, mengapa tidak disampaikan, mau suka atau tidak setidaknya sudah disampaikan, tidakan akan penyesalan “coba saja saya sampaikan pendapat saya, mungkin saya tidak begini, tidak begitu” itu asumsi, jadi saya mencoba mengkonfirmasi apa yang ada di fikiran saya benar atau salah, baik atau buruk, orang yang mendengar dan memiliki ilmu lebih tinggi akan membantu mengkonfirmasi apa yang ada saya sampaikan dengan pendapat mereka yang berdasar, bukankah dengan begitu kita juga belajar?

Menjadi pembelajar di setiap perjalanan.

Tak Sesuai Rencana

Tahu kehidupan seorang degan pekerjaan yang tidak menentu? Walau tidak punya pekerjaan yang puguh kalau dalam bahasa sunda, sesungguhnya dia memiliki sejuta rencana yang sudah tersusun atau sudah dijadwalkan beserta bulan, hari, tanggal, bahkan sampai jamnya sudah dia rencanakan dengan baik. Yang mungkin tidak bisa di lakukan oleh seseorang yang memiliki pekerjaan puguh, jam 8 masuk kantor, pulang jam 4. Begitu setiap harinya.

Sedikit cerita di minggu ini, tepatnya sejak hari senin lalu, 18 Juli 2016. Hari pertama sekolah untuk seluruh pelajar di negeri ini. termasuk untuk saya, seorang pembina putri, walau tak ada jadwal mengajar, namun dalam rencana, kami akan melakukan rapat awal tahun, menyampaikan berbagai program sekolah, kelas, sampai program kerja berbagai ekskul di sekolah, ini kesempatanku untuk menyampaikan program yang sudah aku susun, karena jika terlambat, post dana untuk memperlengkap berbagai alat bisa tidak bisa di approve. Dalam rapat itu menjadi satu momen yang tepat untuk meminta bantuan dari wali kelas 4-6.

Namun sayangnya pagi hari aku harus mengantar umi untuk check lab, tepatnya cek kadar gula di puskesmas cigombong, dimana hasil lab ini harus di bawa saat check up hari kamis di RSUD Ciawi. Menurut perhiungan biasanya, untuk check lab itu tidak akan lama, telebih dengan mengambil kartu antrian di untuk pasien atas 60 tahun, “bisa dapat jalan tol nih”saya kira, karena pihak puskesmas memberikan priioritas kepada pasien lansia. Namun apa boleh dikata, setelah menunggu 6 layer mulai dari registrasi sampai mendapatkan hasil lab, baru selesai jam 11 siang. Dimana rapat awal tahun sudah berlangusn selama 1 jam.

“ aku kapok jik harus ke Puskesmas hari senin, asli penuh abis, bukan hanya puskesmas dengan antrian yang super panjang, tapi juga kantor polisi, kantor polisi? Iya banyak orang-orang yang datang untuk membuat SKCK” terlebih setelah lebaran, banyak pabrik yang mulai kembali membuka lowongan pkerjaan, setelah memberhentikan kariawan sebelum lebaran idul Fitri.

Namun saat itu masih bersyukur karena aku masih bisa menyampaikan proker pramuka untuk 1 tahun kedepan, dan alhamdulillah hanya satu program yang tidak di approve. Walau aku tak sempat mendengarkan program sekolah yang disampaikan oleh kepala madrasah.

Malam harinya sama, dalam perencanaanku hari selasa itu aku akan ikut untuk survey lokasi kemah FFH, sehingga, semalaman aku terus meminta email surat undangan dan surat izin untuk perwakilan kelompok yang akan berangkat ke semarang, dalam pertemuan SMN (suara muda nusantara) regioanal jawa. Karena seingatku hari rabu tgl 20 juli ini mereka akan berangkat, sehingga hari selasa adalah hari terakhir untuk meminta izin kepada sekolah dan orang tua. Karena jika tidak maka kelompok di sekolah ini akan medapat black list dan akan sulit mendapatkan izin untuk kegiatan berikutnya. Sedangkan aku hari selasa akan pergi kesukabumi, setidaknya aku bisa mengirimkan surat melalui email  sekolah, tapi jika surat resmi tidak datang maka sulit untuk membawa perwakilan ini. ku tunggu samapai malam, namun tak kunjung datang email itu.

Selasa pagi aku langsung check email dan terus menunggu, sebelum matahari terbit. Alhamdulillah surat dan segala surat perizinnan saya dapatkan dari Mba Nana dari semarang.

Datanglah notification dari whatsapp, tahukah, ternyata lokasi untuk camp FFH sudah di dapatkan saat survey yang di lakukan oleh team pada hari senin kemarin, tepatnya dihulu cai puncak.

“oke.!” See?

Namun kekecewaanku sedikti terobati ketika, managerku bilang akan membicarakan sesuatu sore ini di kantor. Baiklah.

“huuhh” ku menghela nafas dan kembali memandang ke arah positifnya.

Segera aku menjadwalkan pagi sampai siang ini untuk mendatangi sekolah untuk meminta izin keberangkatan salah satu anggota kelompok ke semarang, selain ke sekolah, izin orang tua pun wajib di dapat.

Namun sebelum aku berangkat, ada permintaan dari keponakanku tercinta untuk menemaninya ke kantor kecamatan, untuk membuat KTP Pertamanya. Baiklah , aku rasanya masih ada waktu untuk ke sekolah.  pagi ini aku terus menunggu email tambahan TOR kegiatan yang tidak telampir dalam email Mba Nana pagi tadi.

Aku pergi kesekolah usai urusanku dengan per-KTP-an itu, dengan semua surat izin dan undangan yang sudah aku print, tanpa tor kegiatan pastinya, karena sampai sepulang dari kantor kecamatan, email yang di tunggu tak kunjung datang. Lagi. Alhasil aku harus menjelaskan panjang lebar kepada sekolah, beruntungnya sekolah mengizinkan dengan mudah. Alhamdulillah. Begitu juga  dengan orang tua, kebetulan saat itu, posisinya di warung, dimana ibu dari delegasi Bogor ini sedang sibuk, jadi singkat cerita saja aku sampaikan, dan kembali alhamdulillah, izin orang tua di kantongi, “tinggal berangkat aja yah besok” ucapku pada Resti, delegasi kelompok Groupertri.

Saat itu jam 10, aku memang memutuskan berangkat ke kantor setelah juhur, dan pihak sekolah memintaku untuk memberikan ice breaking kepada siswa baru di kelas 7 smp. Baiklah waktuku 1 jam untuk membawa mereka keluar dan bermain, aku rasa ini bukan ice bereaking, tapi team  building. Namun cukup menarik dari permainan ke permainan berikutnya bisa membuat komunikasi kelompok berlangsung membaik. Aku menyadari permasalahan yang di lihat oleh guru yang memintaku membuat permaian, yang bisa membuat setiap anak berkomunikasi dengan satu kelompok. baiklah pukul 11.30 baru selesai, ternyata cukup sulit membuat mereka mau saling sekedar berdiskusi dan berembuk untuk menentukan sesuatu, semuanya masih sangat ‘malu-malu’

Waktunya pulang dan bersiap pergi ke kantor. Dan tahu kah apa yang terjadi saat aku sampai di kantor? Aku masih harus menunggu sampai sore, benar-benar sore sampai Rapat Managerku dan mitra-mitranya selesai.

See? Tapi tetap tak habis akal saya untuk melakukan hal  lain yang bisa saya lakukan. Ini mungkin yang kita bisa ber-rencana namun Allah lah yang menentukan segalanya, ketika kita hanya mengeluh dan berdian diri saja ketika rencana kita tak sesuai,maka begitu banyak waktu yang kita buang secara percuma. Takdir Allah selalu jadi takdir yang terbaik, yuk berfikir positif.

Cahaya Langit Menemai Setiap Harapan

Ketika banyak teman-teman yang mulai sibuk mencari dan memilih, sekolah menengah mana yang akan menjadi tempat belajar selanjutnya, aku hanya berharap apa yang umi ucapkan hanya gurauan saja. Bagaimana tidak, umi hanya memberikan pilihan antara aku tetap di rumah atau bekerja di pabrik.

Sudah menjadi kebiasaan di keluargaku untuk tidak membantah sebuah keputusan dari orang tua, kami 12 bersaudara, aku dan saudara kembarku merupakan anak penutup. saat ini kami berdua tengah harap-harap cemas menunggu hasil Ujian nasional tingkat SMP, dan Dea, kakaku nomor 10 sudah dengan tenang menjadi salah satu lulusan terbaik di SMA nya, Dia memang sangat pintar, saya selalu iri padanya.

“Lanjut kemana Ran?” tanya Wali kelas 9a, Bu Mely namanya, aku hanya tersenyum sebagai balasan dari pertanyaannya itu.

“Siapa yang akan ambil nilai kelulusanmu, sabtu ini?”

“gak tahu bu, kayaknya ga ada, soalnya hari sabtu itu kelulusan kakak saya di SMAN 1, dan Umi pasti datang kesana, mungkin kakak saya yang akan hadir”

Walau memiliki banyak saudara, tak banyak orang dirumah jika bukan hari minggu, atau hari libur, semuanya bekerja dan hanya pulang seminggu atau 2 minggu sekali. Aku sudah sangat terbiasa jika harus mengambil raport sendiri, dan itu dak menjadi masalah, karena aku tetap bisa mengambil raport walau hanya sedirian. Tapi ini berbeda. Ini kelulusan UN, mungkin yang terakhir untuk ku.

Kami duduk di kursi yang membatasi lapangan sekolah dengan koridor jalan, satu persatu orang tua kami datang, dan jumlah kami yang menunggu pun mulai berkurang, karena setiap kali orang tua/wali datang, satu dari kami akan ikut bersama mereka mengantarkan ke ruangan rapat. Aku sudah lelah melambaikan tangan dan melemparkan senyum setiap kali mereka pergi.

Pak Ade, Guru olah ragaku datang dan bertanya, siapa yang akan datang?, aku kembali hanya tersenyum. “ya sudah, bapak saja yang ambil yah” aku mengangguk, kali ini dia bertidak sebagai paman ku, bukan sebagai guru olahraga.

Kami semua siswa kelas 9 menanti dengan cemas pengumuman dari kepala sekolah, diluar kami saling memengang tangan dan berdo’a, karena sempat terdengar kabar bahwa tahun ini ada 2 orang yang tidak lulus. Satu perempuan dan satu laki-laki. Aku khawatir, karena siapa saja  bisa masuk dalam nominasi itu, temasuk orang paling pintar di sekolah.

Bersorak dan bertakbir kami semua setelah mendengar keputusan bahwa kami semua lulus ujian. Bermacam ekspresi kami luapkan, ada yang bertepuk tangan, ada yang sampai menangis, berpelukan bahkan ada yang biasa saja, namun aku yakin kami semua tersenyum dan bahagia, karena segala perjuangan kami di sekolah berakhir dengan baik.

Namun ini bukan akhir, tapi awal dari sesuatu yang baru, Perjuangan yang baru.

Keinginanku untuk melanjutkan sekolah sangatlah besar, aku sangat ingin merasakan masa-masa SMA, dan bisa melanjutkan kuliah, dan pergi keluar negri, seperti cerita dalam novel-novel yang aku baca.

Tak pernah aku membantah orang tuaku, terutama umi. Namun kali ini aku memberanikan diri untuk meyakinkannya, bahwa anaknya ini ingin melanjutkan sekolah sama seperti Dea.

Sore itu aku menemaninya berbelanja kebutuhan dapur, dan diperjalanan pak RT menyapa dan menanyakan kelulusanku, umi tersenyum. Pertanyaan berikutnya sama dengan banyak orang. dan ini jawaban umi “satu saja kemaren kakaknya sudah setengah mati, apa lagi sekarang 2 pak, sikembar kalau ga kerja yah, bantu saya saja dirumah.”

Pak RT melirik ku, aku tersenyum, walau dalam hati aku sedih mendengar pernyataan itu.

“tapi sayang bu, Ran kan juara kelas terus dari kelas 7, masa anaknya pinter tidak dilanjutkan, sayang bu.”

“sayang mah sayang pak, tapi kalau tidak ada uangnya bagaimana?” sambil tertawa basa basi umi akhirnya pamit, karena tak mau meneruskan pembicaraan ini. aku kembali melemparkan senyum. Mungkin dia melihatku dengan iba “apa kau bisa melihat harap pada pandanganku pak” ucapanku dalam hati, tak ada yang bisa diperbuatnya.

Aku berdoa, semoga ibuku berubah pikiran, dan Allah memberikan rezeki pada keluarga kami agar kami berdua bisa bersekolah. Tak masalah sekolah manapun, yang penting kami bisa meneruskan pendidikan.

Sampai akhirnya ada saudara jauh yang berasal dari leuwiliang. Dia mau menyekolahkanku namun aku harus tinggal disana, aku dengan tegas menolak. Aku tak pernah meninggalkan keluargaku, dan tak akan pernah.

Pada saat hari kelulusan, umi datang kesekolah untuk terkakhir kalinya. Dan bertemu dengan guru-guru. Aku mendengar percakapan mereka. Tapi hasilnya sama saja. Aku selalu berharap guru-guru mampu memberikan sedikit harapan atau jalan keluar agar aku bisa terus bersekolah.

Aku tetap tersenyum tabah, berharap umi tak pernah melihat keraguanku untuk terus bersekolah namun juga tak ingin membebaninya dengan keinginannku ini,  bagaimanapun aku akan tetap menghargai keputusannya. Mau bersekolah ataupun tidak aku akan tetap belajar, mungkin dengan ikut belajar paket C nanti, aku akan teteap berausaha, bagaimanapun jalannya. Aku yakin segala kehendak dan takdir yang sudah tersurat itu sungguh yang terbaik, dan aku tak akan pernah memadamkan mimpiku untuk bisa seperti Ikal dalam Laskar Pelangi.

Dan benar saja, tak lama setelah aku bergelut denan rencana aku tak bersekolah, jawaban tuhan datang. Saat kami berjalan pulang, dimana jarak dari rumah ke sekolahku kurang lebih hanyak 500m, guru kelas 1 SD ku datang. Bu Endah namanya, mereka berdua sudah sangat akrab.

Aku langusung menyalaminya.

“Eh umi, udah ngambil rapot yah, Ran dapet yang pertama lagi yah?” sapanya dengan ramah

“Alhamdulillah bu, sampe akhir rangking satu terus” umi tersenyum menatapku bangga.

Sepertinya aku tak akan asing dengan pertanyaan berikutnya, dan benar saja, tapi walau jawaban ibuku istiqomah, kali ini Bu Endah memberikanku harapan.

“Nya entos atuh Umi daftarin aja di sekolah baru di daerah Raweuy, SMK lagi, biar siap kerja nanti anaknya, saya juga ngajar disana Umi. Tong khawatir masalah biaya mah nanti sama Endah di urus”

Umi terlihat terkejut, dan baru mendengar ada sekolah di Desa sebelah, hanya perlu 45 menit untuk berjalan dari rumah kesekolah, artinya tak perlu ada ongkos setiap harinya, dan itu salah satu yang umi pertimbangkan.

“oh, ada SMK ya di Raweuy?, tapi bu biaya mah tetep we dabel,  satu sekolah, satunya lagi juga”

“biayanya juga ga akan besar, apalagi Ran mah bisa dapat beasiswa kalau dia tetep bisa pertahanin prestasinya, dan ga butuh uang harian ya Ran, bisa jalan, kalau ga jajan bisa ke Rumah ibu, yang penting mah lanjutin sekolah mi, sekarang mah lulusan smp ga bisa jadi apa-apa. Sayang si Rahi sama Ran, pokoknya mah daftar we nya mi. endah  tunggu ya mi”

Umi tersenyum, dan jangan tanyakan apa yang aku rasakan, aku seperti melihat harap. Dan akupun mampu melihat setitik harapan dari mata umi, dan harapan yang mengembang dalam hatiku.

Setelah kelulusan, setiap harinyalebih banyak ku habisakan di Rumah, karena aku tak pernah lagi pergi ke sekolah, “untuk apa?”. Umi mulai bercerita dan aku selalu setia menjadi pendengarnya, sepertinya dia tahu apa isi kepalaku, walau aku selama ini tak pernah memaksa untuk melanjutkan sekolah, tapi dia tahu keinginanku untuk melanjutkannya sangat, sangat besar.

Dia bercerita bagaimana kesulitanya saat harus memiliki uang setiap harinya untuk ongkos dan jajan kami bertiga, aku dan Rahi tidak butuh ongkos tapi Dea Setidaknya ada Rp.5000,- yang harus ada setiap harinya, sedangkan keuangan keluarga kami mengandalkan dari kakak-kakaku yang sedang bekerja, sedangkan beberapa dari mereka sudah memiliki keluarga, dan bagi yang tidak memiliki keluarga sudah sangat besar membantu membiayai hidup kami  dan sekolah kami bertiga.Dia tak ingin menambah beban keluarganya lagi.

Tapi aku tahu umi bukan orang yang tidak memiliki harapan, buktinya dia tak pernah memaksaku untuk bekerja, ketika beberapa temanku yang tidak melanjutkan sekolah sudah mulai bekerja. Dan dia tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk kami berdua, sampai akhirnya setelah dia mempertimbangkan banyak hal dia meminta kami berdua untuk mencari tahu informasi mengenai SMK yang Bu Endah ceritakan.

Aku dan Rahi begitu bahagia, walau itu baru sampai tahap mencari tahu, tapi setidaknya aku melihat lampu kuning untuk bersekolah, “ tapi jangan ngarepin ongkos tiap hari yah kalau memang kalian jadi sekolah disana.” Peringatnya.

Aku dan rahi sontak melakukan tos, dan kami memutuskan untuk pergi besok pagi melihat keadaan sekolah dan betanya banyak hal di sekolah itu. Senyum kami bertiga kali ini benar-benar mekar, aku tahu sekecil apapun harapan kita, Allah akan memberikan campur tangannya dengan alam semesta untuk mendukung setiap harapan sekecil apapun.

Apa kami akan benar-benar melanjutkan sekolah?. Kami siap untuk berjalan selama 3 tahun kedepan. Aku melihat petualangan di depan mataku setelah misi untuk mencari tahu informasi seputar SMK itu.sudah sangat bahagia walau hanya membayangkannya.

Aku dan Diriku

Aku sangat meyakini setiap manusia memiliki kehidupan yang sarat akan cerita  luar bisa dan penuh dengan makna. Tak terkecuali. Bahkan setiap makhluk di alam semesta ini memiliki perjalanan hidup yang sangat menarik, menantang dan beragam. Tak ada yang membosankan.

Life is about jurney not only about destination.

Aku mulai menulis setelah aku mulai menyadari bahwa aku akan melupakan sedikit-demi sedikit kenangan. Awalnya aku kesulitan untuk mengingat nama teman-teman yang baru saja aku temui, tapi ternyata aku juga kesulitan untuk mengingat nama teman lamaku, butuh waktu untuk ku mengingat, sampai harus menghentikan semua aktivitas hanya untuk mengingat sebuah nama, bahkan sebuah kejadian. Faktor umur mungkin. Tapi aku masih berusia 22 tahun. Masih jauh waktuku untuk sepikun itu.

Aku adalah penghafal ulung selama aku bersekolah. Aku bisa mengingat hal-hal detail dan bahkan aku bisa ingat sebuah quotes dari sebuah buku beserta halamannya. Aku sangat mudah mengingat berbagai hal dan mengaitkan berbagai kejadian hanya dengan  mengingat apa yang sedang aku lakukan pada saat yang sama.

Aku memiliki cara tersendiri untuk memahami sebuah materi pelajaran, misalnya dengan memberikan gambar-gambar yang berhubungan, memberikan warna pada beberapa tulisan, menyingkat berbagai istilah atau pengertian, serta merangkai menjadi sebuah lagu.

Ini seperti dunia ku yang lain. Sangat berbeda denganku yang dulu. Kali ini aku memiliki ingatan yang sangat pendek, bahkan aku bisa melupakan hal yang baru saja aku baca. Bukankah ini gila?.

Entah mengapa ini bisa terjadi. Kepalaku akan sangat sakit jika  harus berusaha keras untuk mengingat kejadian yang bahkan aku tak bisa mengingat sedikit pun, aku merasa hal itu tak pernah menjadi bagian hidupku. Sampai akhirnya Dea (kakakku) meyakinkan ku dengan sebuah gambar dan menceritakan suasana pada saat kejadian itu. Hingga akhirnya aku baru bisa mengingat, aku lega bisa mengingatnya kembali, namun aku benar-benar tidak bisa menerima bahwa aku bisa melupakan hal penting seperti itu.

Pada bulan oktober 2014, di bawah langit malam Yangon, aku mendapat sedikit penjelasan dari Tilla, salah satu teman yang sudah aku anggap sebagai guruku sendiri. Hal ini sangat wajar, karena otak memiliki sistemnya sendiri untuk menghapus berbagai ingatan yang dianggapnya tidak penting. Alasan lain adalah, karena orang seperti ini bisanya orang yang melakukan banyak kegiatan dan bisa melakukan berbagai hal dalam waktu yang sama, dia juga temasuk golongan pelupa karena kesibukannya. “makannya Ran, coba perlahan lepaskan satu persatu, cari satu prioritas kegiatan” kalimat penutupnya.

The Twig in the winter
semakin banyak yang kau lakukan, semakin banyak yang harus kau fikirkan

Apa yang dia sebutkan benar adanya. Aku berdiri di banyak tempat,  banyak yang aku kerjakan dan aku pikirkan. Tapi sulit untukku melepaskannya, walau pada akhirnya satu persatu aku lepaskan.

Selama aku masih bisa mengingatnya aku harus segera mencatatnya, karena aku bisa membayangkan betapa sepinya hidup jika aku harus kehilangan berbagai ingatan masa laluku yang sangat berharga. Aku memutuskan untuk mulai menulis. Apapun yang aku ingat sebelum aku melupakannya.

Photo-0695
When you see you remember

When you see you remember. aku tak bisa dengan sempurna menggambarkan apa yang aku alami seperti yang otak kita lakukan, setiap kali membayangkan suatu kenagan, seakan kita kembali ke masa itu. Aroma itu, suasana itu, orang-orang itu sekaan kembali kita rasakan.

Tapi aku berusaha menuliskannya, hingga sampai waktu hal itu hilang aku akan bisa membayangkannya dengan tulisan yang aku buat. Karena yang paling tahu diri kita adalah diri kita sendiri. Jika diri kita yang dulu hilang, kepada siapa kita akan bertanya?